Sabtu, 03 Oktober 2015

What do you think ?

Aku adalah manusia yg lebih banyak memakai logika daripada perasaan. Setiap hal yg terjadi pasti karena ada sesuatu hal yg membuat itu terjadi.
Hukum Newton III Sebab-Akibat.
Hampir semua hal yg aku lakukan memakai prinsip ini, dari mulai pekerjaan, pertemanan, sampai pendidikan.
Sebagai contoh, jika dalam mata kuliah yg aku jalani ingin mendapatkan nilai bagus maka aku harus bersungguh sungguh belajar, mengerti dan mengaplikasikannya agar mendapat nilai bagus. Begitu pula masalah pekerjaan, menjadi pekerja yg giat, ulet, tekun, rajin dan kreatif akan menaikan jabatan ataupun pendapatanku.
Well, semua itu sangat amat berlaku. Dan semuanya benar benar terjadi.
Kecuali dalam satu hal, PERCINTAAN.
Aku harus mengakuinya memang diriku adalah seorang ambisius. Bahkan seluruh hidupku pun akan ku pertatuhkan demi sesuatu yg aku inginkan, karena aku mempunyai prinsip Hukum Newton III.
Aku mencintai seorang gadis melebihi gadis lainnya seumur hidupku, ibuku tidak termasuk dalam hitungan karena berbeda konteks.
Dia segalanya dalam hidupku, seluruh waktukupun aku korbankan untuknya. Semua yg bisa aku berikan, akan aku berikan.
Kapanpun dan dalam kondisi apapun aku siap sedia untuknya. Bahkan hal lain pun sering aku korbankan untuknya.
Tidak ada yg aku dahulukan selain dirinya.
Tetapi Hukum Newton III ku tidak berlaku dalam hal ini. Sedikitpun aku tidak pernah ada di dalam hidupnya, matanya selalu tertutup melihatku, jiwanya selalu melayang jika bersamaku. Hatinya? Mungkin ada di tempat lain.
Dalam hal ini, perasaankulah yg paling kuat. Kepercayaanku terhadap dirinya adalah prioritas. Tapi kenapa, setiap aku bersamanya dukaku melebihi sukaku. Hati ini selalu gelisah, raga ini menjadi payah, semangatku untuk menjalani hidup menuju punah.
Hampir semua orang orang terdekatku pun tidak pernah setuju terhadap ambisiku ini, mereka bilang kami tidak cocok lah, sama sekali.
Aku sadar, sadar betul. Aku seringkali seperti sebuah benda yg digunakan, bukan untuk dicintai. Tapi lagi lagi perasaanku, kepercayaanku mengalahkan segalanya.
Bahkan ibukupun tidak memihak kepadanya, secara tidak langsung.
Setiap aku hancur, aku bangkit, bangkit lagi, berjalan lalu terbang. Dia datang lagi, dan aku mempersilahkan dia untuk melakukannya lagi. Terus menerus, aku tak tahu sampai kapan. Aku selalu membuka pintuku untuknya. Aku tahu ini salah, tapi sekali lagi perasaanku mengalahkan segalanya.
Hidupku tak kunjung membaik karena lebih banyak masa sulit saat bersama.
Aku tak pernah bisa menolak apapun keinginannya, aku selalu mendukungnya, menyenangkan hatinya, mencoba membuat dia tertawa lebar lebih dari siapapun. Padahal dia tidak pernah sekalipun untuk membalas itu.
What should I do?
I'm not giving up, actually I don't ever know what to do. I'm scared, confused, upset and depressed at the same time.
Aku tidak pernah tau kapan ini akan berakhir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar