WHEN LOVE CHANGED ME
Hembusan angin melewati wajahku dengan tenang, daun daun
berguguran di tengah ranting yang mulai rapuh. Terpampang garis lurus dari
kejauhan sebuah rumah indah namun tak begitu mewah membuatku teringat kembali
sekitar 8 tahun yang lalu. Saat aku sedang duduk di taman ini selepas
berolahraga pagi untuk beristirahat sejenak, kemudian dari arah tersebut
kulihat sebuah mobil box seperti pengangkut barang, sepertinya ada sebuah
keluarga yang baru pindah rumah.
''Nampaknya bukan keluarga besar, kukira mereka adalah
keluarga yang ramah'', kataku.
Kulihat mereka hanya bertiga, sepasang suami istri dan
seorang putra nya yang masih kecil. Hanya seorang supir pengangkut barang
tersebut yang membantu mereka, sedangkan barang yang mereka bawa terlihat cukup
banyak. Tanpa pikir panjang akupun bergegas menuju tempat tersebut.
''Om barangnya banyak ya, bolehkah saya membantu?'' Kataku.
''Oh tentu saja boleh nak, tetapi jangan memaksakan diri,
semampumu saja anak muda'', sahutnya.
Akupun mengiyakan. Memang barang yang mereka bawa cukup
banyak dan dalam ukuran yang besar, akupun sedikit kelelahan.
Setelah hampir satu jam berlalu akhirnya pekerjaan kami pun
selesai. Seorang pria tersebut pun menawarkan aku untuk beristirahat sehenak di
rumah barunya terlebih dahulu, sebagai tanda rasa terima kasihnya karena telah
ku bantu.
Di saat itu juga seorang gadis berambut panjang tingginya
hampir sama denganku, wajahnya sangat tenang, matanya begitu memikat, siapapun
yang melihatnya pasti akan merasa damai seperti di surga, seperti bidadari
turun ke bumi, dia keluar dari rumah tersebut.
''Oh iya anak muda siapa namamu dan dimanakah kamu
tinggal?''
''Aku Fauzi Om, kebetulan aku tinggal tidak jauh dari sini
tepatnya di perumahan sebelah.''
''Om hampir lupa memperkenalkan diri, Om sendiri bernama
Richard ini istri om Christin si kecil ini Joni dan gadis yg baru muncul ini
anak sulung om bernama Veranda.''
Kemudian kamipun berjabat tangan, momen yang terlupakan
bagiku adalah saat berjabat tangan dengan gadis tersebut, bayangkan saja saat
ia tersenyum kepadaku, aku seperti sedang berada di gerbang pintu masuk surga
dan seorang bidadari menuntunku untuk masuk ke dalamnya dan menikmati keindahan
seluruh isinya.
Namun tanpa sadar tampaknya aku terlalu lama menggenggam
tanganya, akupun melepaskannya dan kami menjadi salah tingkah. Pada detik itu
lah kisah ini, kisah cinta ku dimulai. Kisah yang tak seorangpun dapat
menghentikannya.
Sejak kejadian tadi pagi aku tak bisa berhenti untuk
mengingatnya, wajahnya selalu terniang niang di benakku, kupikir inilah cinta
pada pandangan pertama, ''memang minggu pagi yang indah.'' dalam hatiku
berkata.
Lalu dalam lelappun aku tertidur hingga mentari pagi
menunjukan sinarnya, saat aku terbangun badanku terasa berat dan pegal pegal,
mungkin ini efek dari aktivitasku kemarin.
''Coba saja ia memelukku pasti tak akan seperti ini jadinya
hehe'', gumamku.
Waktu telah menunjukan pukul 6.00 kurasa aku telat ke
sekolah hari ini. Oh iya aku masih duduk di bangku SMA kelas 3, dan ini adalah
tahun ajaran baru, mengingat ini adalah hari pertama akupun segera bergegas
menuju ke sekolah agar tidak telat.
Hampir saja aku telat, saat aku datang pintu gerbang
sekolahku hampir saja tertutup. Dan setibanya di kelas teman temanku ternyata
terlihat berkumpul memisahkan diri dari satu dengan yang lainnya, sepertinya
mereka sedang membicarakan sesuatu. Benar saja saat aku bergabung dengan
mereka, mereka sedang membicarakan seorang siswi yang baru masuk ke sekolah
kami, katanya sih cantik kaya bidadari gitu deh, ''tp masa iya'', gumamku.
Kebetulan siswi tersebut memasuki jurusan yang sama denganku yaitu Ilmu
Pengetahuan Alam, jadi kelas kami tidak terlalu berjauhan. Aku pun semakin
penasaran dengannya.
Saat kami sedang asik berbincang bincang Bu Sirna guru
paling menakutkan tiba tiba masuk ke dalam kelas.
''Ayo anak anak ambil kertas selembar dan sebuah alat tulis,
hari ini kita akan tes daya ingat kalian'' suaranya dengan lantang membuat
geger seisi ruangan.
Kami pun kaget bukan main, walaupun pelajaran biologi namun
tes seperti ini akan berpengaruh pada nilai akhir kami.
Tes pun berjalan sedikit menegangkan dan aku melewatinya
hanya dengan sedikit hambatan. Karena soal yang diberikan adalah dari pelajaran
tahun kemarin.
Bel istirahat pun berbunyi, aku bersama kedua temanku Rafa
dan Evan segera melakukan aktivitas kami seperti biasa yaitu nongkrong di
kantin dan menggoda setiap wanita yang berlalu lalang di sekitar kami. Maklum
kami termasuk cowok yg populer di sekolah kami, dengan wajah yang di atas rata
rata dan bentuk badan yang atletis ditambah lagi kami bertiga mempunyai sebuah
band yang cukup terkenal di kalangan komunitas indie saat itu. Hanya dalam segi
pelajaran cuma aku yang menonjol, mereka sangat malas ketika belajar hanya
mengandalkan keberuntungan dan bantuan teman saja ketika menghadapi ujian.
Di dalam benakku masih terpikir siswi baru itu, aku ingin
melihatnya untuk menghilangkan rasa penasaranku, ya walaupun banyak perempuan
yang hadir di dunia ku namun aku masih belum membuka hatiku untuk siapapun,
tidak seperti kedua temanku, yang memacari setiap perempuan yang dekat
dengannya. Akhirnya Ipul dan Nanda memberitahu kepadaku siswi baru tersebut
akan datang dari arah jam 9.
Dari kejauhan memang kulihat ada sekumpulan perempuan yang
hendak berjalan melewati kami. Semakin mereka mendekat aku semakin bisa
mengenali mereka satu persatu, namun ada seseorang yang tampak tak terlalu
asing tapi aku tak mengenalnya, tapi aku merasa pernah bertemu dengannya
Saat mereka lewat dihadapan kami aku pun kaget bukan main,
ternyata dunia ini memang tak seluas samudra, aku sungguh terkejut, aliran
darahku mengalir deras, badanku menjadi kaku dan panas dingin tak seperti
biasanya,
Aku pun memberanikan diri untuk memanggilnya
Verandaaaa.....
Seketika kedua temankupun kaget dan heran. Ketiika itu juga
siswi tersebut menoleh ke arah ku dan menghampiriku.
''Hmm sepertinya belum lama kita berjumpa, wajahmu terlihat
tak asing bagiku, kau kan pria yang membantu keluargaku kemarin, coba aku ingat
terlebih dahulu namamu, hmm Fauzi benar kan?'' Jelas Veranda.
Aku pun hanya tersenyum dan terlihat sedikit kikuk.
''Gak nyangka ya kita satu sekolah, dunia sempit kayanya,
yaudah aku duluan ya.'' lanjutnya.
Aku pun hanya tersenyum kaku.
Kemudian kedua temanku bertanya tanya tentang kedekatanku
dengannya, aku hanya tertawa tawa melihat tingkah laku cemburu mereka karena
aku selangkah lebih maju dari mereka kali ini.
Hari hari pun berlalu, terdengar kabar jika Veranda
memiliki watak yang kurang baik, ku
dengar ia adalah gadis yang tidak mau kenal dekat dengan siswa laun, terlebih
lagi jika tidak seiman dengannya.
Aku pun nyaris tak percaya dengan hal itu, nyatanya selama
ini hubunganku baik baik saja dengannya, ya walaupun dalam waktu dekat ini aku
memang tidak sedang dekat dengannya, belakangan ini aku sibuk dengan persiapan
menuju ujian akhir sekolah dan tes masuk universitas negeri.
Benar saja yang mereka bilang, saat itu aku sedang berjalan
di lorong sekolah dan dihadapanku Veranda tergesa gesa dengan bawaannya yang
banyak. Melihat hal itu, akupun langsung menawarkan diri untuk membantunya,
kukira ia menyukainya, tak kusangka ia menolak tawaranku secara mentah mentah.
Anginpun berlalu dari arah ia pergi menerpa wajahku,
rambutku berkibar, hatiku menjadi tak karuan adanya.
Semenjak kejadian itu aku berusaha mencari tahu apa yang
terjadi padanya, Veranda yang kini tak seperti yang kukenal dahulu, ia telah
berubah dan banyak teman temannya yang menjauhinya karena hal tersebut. Aku pun
turut prihatin, namun aku percaya ada seseuatu yang tidak benar dibalik semua
ini. Veranda pasti punya alasan tersendiri mengapa ia berubah menjadi seperti
ini karena aku percaya dia adalah bidadari yang akan selalu bersinar menerangi
gelap nya malam di dalam hatiku.
Sore itu sepulang dari tempat latihan olahraga, saat aku berada
di jalan dekat dengan rumah Veranda kulihat ayahnya keluar dari rumah dengan
raut wajah yang berantakan dan membawa dua koper besar ke dalam mobilnya sambil
berteriak memaki maki ke arah rumahnya namun aku tak terlalu jelas mendengar
perkataannya yang kudengar hanyalah kata ''cukup sampai disini''. Kemudian Om
Richard melaju dengan cepat dengan mobilnya meninggalkan rumah tersebut.
Setelah ku selidiki ternyata mereka sudah berpisah dan tidak
ada yang tahu alasan mengenai perpisahan tersebut.
Tak kusangka, keluarga yang begitu damai dan harmonis bisa
berakhir dengan kisah seperti ini. Aku turut prihatin apa yang telah dilalui
Veranda, memang tak pantas menyalahkan dirinya berubah akhir akhir ini. Dia
hanyalah seorang gadis lugu yang belum siap melawan dunia yang kejam ini
Ujian akhir sekolah tinggal menghitung hari, semua siswa
sangat sibuk dengan urusannya masing, namun Veranda masih meratapi
kesedihannya, tak ada seorangpun di sekolah ini yang tahu tentang masalahnya
selain aku, terlebih Veranda terlihat lebih selalu menyendiri akhir akhir ini,
aku takut Veranda tidak menyelesaikan ujian akhir dengan baik.
Hari ini pemberitahuan nilai Try Out terakhir menjelang
ujian akhir, setelah pelajaran berakhir, aku dan teman teman bergegas melihat
hasilnya di papan pengumuman. Aku sangat senang karena nilai ku meningkat dan
cukup memuaskan, ini semua karena kerja keras dan bantuan dari teman temanku
selama ini. Namun saat aku mencari nama Veranda aku terkejut karena nilainya
makin menurun dan tidak memenuhi kriteria untuk lulus dalam ujian akhir.
Kulihat di sekeliling tak nampang batang hidungnya, kupikir ia telah mengetahui
hasil dari tesnya, sehingga ia enggan untuk melihatnya.
Setelah melihat pengumuman tersebut, teman teman ku sebagian
pulang dan ada juga yang mampir ke kantin terlebih dahulu namun hanya sebagian
kecil, disinipun aku tak melihat Veranda. Aku terus memikirkannya, ''kemana dia
pergi apa yang dilakukannya saat ini,'' pikirku.
Saat hendak ingin pulang aku teringat salah satu buku ku
tertinggal di ruang kelas. Tadinya aku agak malas untuk mengambilnya karena
kelasku terletak di lantai 3 dan berada di ujung lorong, tapi buku itu sangat
penting karena berisi materi materi ujian akhir.
Keadaan sekolah saat itu sangat sepi karena seluruh siswa sudah
pulang, aku hanya seorang diri menuju ruang kelasku dan dengan segera mengambil
buku tersebut. Saat ingin meninggalkan kelas aku mendengar suara tangisan kecil
dari pojok koridor lantai ini. Aku agak parno dengan hal tersebut, karena
terdengar kabar sekolah kami adalah salah satu sekolah angker yang ada di
jakarta. Namun aku penasaran dengan hal tersebut, aku berjalan menuju sumber
suara tangisan tersebut. Setelah dekat, aku melihat seorang gadis sedang
berdiri di ujung bangunan dengan tatapan kosong melihat jauh ke arah depan,
sepertinya aku kenal gadis ini namun agak sedikit ragu, aku agak parno karena
ia masih menggunakan seragam sekolah dan rambutnya panjang terurai, sebagian
pikiranku terus terbayang bayang oleh mahluk halus namun sebagian besar ingin
menemui gadis itu. Setelah dekat aku pun tak ragu, aku memegang pundaknya, ya
aku tahu itu Veranda. Dia masih tidak melihat ke arahku, lalu aku mencoba
berkata tenang untuk menenangkan hatinya. Tiba tiba tangisannya berhenti, dia
berbalik ke arahku tanpa kuduga dengan sigap ia memelukku dengan erat, aku
canggung sekali tetapi ia tetap memelukku dan menangis kembali kali ini lebih
keras. Akhirnya aku pun memeluknya, Veranda mengatakan hidupnya kini sudah
hancur.
''Aku tahu masalahmu Ve, tapi kamu adalah gadis yang kuat,
gadis kuat tak seharusnya seperti ini.''
''Aku lemah bahkan dalam hal apapun, aku sudah tak mempunyai
siapa siapa lagi, aku tak tahu harus seperti apa di depan sana.''
''Kamu masih punya aku dan teman teman, kamu tidak akan
pernah sendiri di dunia ini, aku akan terus menemanimu.''
''Tapi aku telah berbuat jahat pada mereka, aku telah
mengacuhkan mereka. Terlebih kepadamu.''
'''Mereka adalah orang orang baik, aku percaya jika mereka
tahu apa yang kamu hadapi saat ini, mereka pasti akan memakluminya dan akan
terus mendukungmu.''
Kami pun melepas pelukan kami, aku mengusap air matanya, ku
tepi kan poni rambutnya lalu kucium keningnya dan kemudian ia tersenyum
kembali.
''Gitu dong, kamu kan cewek yang kuat.''
''Makasih ya Ji udah selalu ada buat aku.''
Lalu ia pun mencium pipiku. Perasaanku kini berubah, aku tak
tahu harus senang atau sedih.
Lalu aku mengajaknya ke suatu tempat, tempat yang sering aku
kunjungi saat sedang merenung seorang diri. Kebetulan saat itu waktunya
matahari terbenam dan kami pun melihat sunset yang indah bersama. Aku terlarut
dengan suasana ini, tak sadar bibirku mengucapkan kata kata sakral yang sulit
untuk dikeluarkan.
''Ve aku mencintaimu.''
''Aku juga mencintaimu, kamu harus berjanji akan selalu ada
untukku ya.''
''Iya aku janji. I'm your Guardian Angel.''
Kami pun melakukan janji kelingking, lalu berpelukan, karena
terlalu terlarut oleh suasana dengan nalurinya wajah kami berdekatan lalau
bibir kami semakin mendekat, sesaat kusadar ini tidak benar, aku tak mau
merusak dirinya.
''Maaf Ve aku tak bisa melakukannya, aku tak mau menodaimu,
seorang bidadari harus terus dalam keadaan suci''.
Ia hanya tersenyum.
Malam telah larut, setelah selesai makan malam di tempat
makan terdekat, kami pun pulang dengan menggunakan sepeda motorku. Di sepanjang
perjalanan Veranda sangat erat memelukku seperti ia akan kehilanganku untuk
selamanya, aku pun merasa nyaman akhirnya Veranda telah kembali menjadi dirinya
yang dulu.
Mulai hari inilah aku menjalin hubungan dengannya, hanya
mencintainya, tak ada wanita lain di hatiku selain dirinya.
Namun tidak semua hal berjalan mulus, terdengar kabar siswi
adik kelasku menaruh hati padaku, aku pun tak menghiraukannya. Memang cantik,
tingginya melebihi Veranda, salah satu gadis populer di sekolah kami, Gaby
namanya. Aku juga dulu sempat menaruh hati padanya, berusaha mendekatinya,
namun aku tak meneruskan usahaku karena terlalu banyak persaingan kala itu dan
sepertinya ia tak membalas lebih.
Pagi itu sengaja aku datang lebih awal, karena ada tugas
dari guru yang belum sempat aku kerjakan kemarin. Terpaksa aku harus
mengerjakannya secepat mungkin di sekolah, saat sedang asik mengerjakan soal,
seseorang menyentuh tanganku kupikir itu Veranda tapi aku kaget ternyata itu
Gaby, sontak langsung aku singkirkan tanganku dan melarang perbuatannya, tetapi
dia terus membuatku terpojok menanyakan hal hal yang tidak akan pernah bisa ku
jawab.
''Kak, kenal aku kan? Dulu kakak pernah mendekatiku ya?
Kakak masih punya perasaan sama aku? Kakak masih sendiri kan saat ini? Gimana
kalau nanti sore kita jalan?''
Di ruang kelas hanya ada kami berdua, lalu tanganku
meletakkan pulpen yang sedari tadi aku pegang, aku memandang wajahnya. Terlihat
dia sangat serius dengan hal ini.
''Hmm aku.. Aku.. Ingin... Keluar sebentar ke kamar kecil.''
Aku langsung berlari
meninggalkan kelas dan menuju wc sekolah. Terus memikirkan hal ini dan menunggu
hingga bel masuk berbunyi.
Saat jam istirahat aku bergegas menuju kelas Veranda,
terlihat raut wajahnya yang cemberut dan jutek. Akhir akhir ini kami memang
sering belajar bersama selain untuk meningkatkan nilai akhir, juga untuk
melepas rasa rindu. Berulang kali aku bertanya kepadanya, namun ia hanya diam.
Ia terus makan tanpa memperdulikanku, saat kutanya kenapa ia menjadi seperti
ini lalu ia mengambil sebuah kertas, dan menulis sesuatu di kertas tersebut.
Saat ku baca tulisannya adalah ''Gaby''. Aku pun tertawa melihat hal yang telah
dia lakukan, ternyata ia cemburu.
Akhirnya ujian akhir telah selesai, semua soal tidak
terlihat sulit untuk dikerjakan, semua yang kupelajari tak satu pun yang sia
sia, begitu pula dengan Veranda. Selepas bel pulang, aku menemuinya untuk
mengajaknya ke suatu tempat. Lalu kami berangkat menuju tempat itu melaju
dengan sepeda motorku.
Kami menuju ke suatu tempat yang mempunyai pemandangan yang
bagus, terletak di pinggir kota. Disini kami hanya berdua, dikelilingi hamparan
rerumputan hijau nan indah dipadu dengan udara segar yang berhembus menenangkan
jiwa, memadu kasih bersama. Dengan petikan gitar dan nyayian yang kulantunkan
hanya untuknya tentang nada nada cinta, diapun bernyanyi bersamaku. Sungguh
indah saat itu, terasa tak ingin berpisah darinya. Hati kami telah padu
terhanyut suasana penuh cinta.
Satu hari yang berarti dijalani dengan orang yang dicintai
terasa seribu tahun telah hidup bahagia di dunia ini.
Hari itu aku sangat sibuk mengurus kelanjutan studiku ke
jenjang perguruan tinggi, hampir seharian aku tak bertemu dengannya karena aku
harus pulang pergi ke rumahku mengambil dokumen pendukung tersebut. Veranda
memaklumi keadaan ku, dia hanya bisa bersabar dan terus mensupportku. Namun
ibuku tak sependapat dengan keinginanku, ibuku tidak memperbolehkanku untuk
melanjutkan jenjang pendidikanku ke perguruan tinggi tahun ini karena minimnya
ekonomi keluarga kami pada saat itu.
Aku tak tahu harus berbuat apa, semua tes untuk masuk
perguruan tinggi telah ku daftar namun ibu tak merestui keinginanku. Sedangkan
Veranda mendapat dukungan penuh dari keluarganya.
Alhasil aku pun setengah hati untuk belajar masuk tes ke
perguruan tinggi, dan hasilnya pun sudah dipastikan, aku tak akan melanjutkan
studiku tahun ini walaupun aku telah mengikuti tiga jenis ujian masuk yang
berbeda beda saat itu. Aku sangat depresi pada saat itu, jalan hidup yang telah
aku rencanakan akhirnya kandas dan harus ku buang jauh jauh.
Suatu malam aku merenung sendiri di kamarku, akan seperti
apa kedepan nanti, arahku sudah tak jelas. Tiba tiba ibuku datang dan berkata,
''Nak kamu tak perlu cemas, umurmu masih muda, masih banyak
kesempatan yang bisa kamu raih. Ibu yang telah merawatmu sejak kecil, Ibu tahu
yang terbaik untukmu.''
Aku tetap terdiam, namun ia masih melanjutkan perkataannya.
''Kamu harus tahu, kita ini keluarga yang kurang mampu,
jangan samakan dengan teman temanmu, apa kamu pikir ibu tidak berkeinginan kamu
untuk menjadi orang hebat? Ibu selalu menangis setiap malam meminta kepada Sang
Pencipta agar kamu diberikan yang terbaik untuk kehidupanmu. Jangan lah
berkeluh kesah, kisahmu masih panjang, kamu mempunyai potensi, Allah pasti akan
memilihkan jalan yang terbaik untukmu. Sekarang ikuti saran ibu, untuk satu
tahun ke depan sebaiknya kamu bekerja terlebih dahulu untuk mengumpulkan uang
biaya kuliah, Ibu ingin kamu seperti kakak kakakmu bisa mandiri.''
Perlahan aku pun mengerti yang telah beliau katakan, beliau
selalu ingin yang terbaik untukku. Akhirnya aku mengangkat wajahku dan
memeluknya lalu mengucapkan rterima kasih padanya.
Semakin bertambah bulan hubungan kami semakin renggang
karena sudah tidak satu akademi lagi, aku bekerja di suatu perusahaan di tengah
kota dan ia kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta kota ini. Namun hatiku
tetap bersamanya, tak sekalipun berpaling untuk yang lain. Aku hanya sibuk
dengan pekerjaanku setiap hari, sedangkan ia masih menikmati masa mudanya.
Aku sudah tak tahu hubungan kami saat ini seperti apa,
tampaknya sudah tak ada cintaku lg dihatinya. Aku selalu menyempatkan waktuku
bersamanya, berkumpul dengan teman temannya hingga aku akrab dengan teman
temannya, hanya rasa saling percayalah yang menguatkan hubungan ini.
Pernah suatu waktu Stella salah satu teman dekatnya
menyarankan untuk mengakhiri hubunganku dengan Veranda karena terlalu banyak
perbedaan diantara kami. Aku menyanggahnya, aku masih memiliki keyakinan kalau
masih ada cinta dihatinya untukku. Stella memberitahuku kalau banyak pria di
kampusnya yang mendekati Veranda, namun Veranda tak pernah membuka hatinya
untuk orang lain. Sekarang dia sedang sibuk dengan tugas kuliahnya.
Suatu hari aku bertamu ke rumah Veranda, aku diundangnya
untuk makan malam. Tetapi selama acara berlangsung ibunya nampak sinis
kepadaku, sepertinya dia tak mengharapkan kehadiranku disini. Tante Christin
menatapku seperti aku adalah seorang pembunuh dan tak menunjukan sikap ramahnya
terhadapku.
Setelah acara berakhir aku pulang dengan suasana hati yang
tenggelam.
Sejak kejadian tersebut kami jadi jarang bertemu, mungkin
ibunya tak suka dengan kehadiranku di kehidupannya dan menyuruh Veranda menjauh
dariku.
Suatu hari aku menyempatkan waktuku untuk bermain ke kampus
Veranda, tetapi aku melihat kejanggalan yang terjadi, saat aku melihat Veranda
dari kejauhan dan secepat kilat mendekatinya karena rasa rindu yang telah
begitu dalam, tiba tiba seorang pria menghampiri Veranda dan mengajak Veranda
pergi ke suatu tempat menggunakan motornya. Veranda pun ikut dengan pria
tersebut lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Aku tak tahu lagi apa yang kurasakan kini, hatiku hilang
tanpa cahaya, semua mata angin tak memberikan arahnya. Semuanya tenggelam, mati
di sungai kegelapan.
Keesokan harinya Veranda menemuiku dan berkata kepadaku
ingin mengakhiri hubungan kami karena dia merasa tidak ada yang perlu
dipertahankan lagi di dalam hubungan ini, dia juga menambahkan sudah memiliki
penggantiku yang jauh lebih baik dariku.
Berulang kali aku bertanya kepadanya tentang keputusan
tersebut, namun ia tetap berkomitmen dan tak mau merubah keputusannya. Aku pun
mengiyakan, lalu kami pun berpisah tanpa ada kata perpisahan diantara kami
berdua.
Ketika ada ribuan alasan untuk berhenti mencintaimu, entah
kenapa aku tetap menemukan sejuta alasan lain untuk tetap bisa mencintai mu.
Dan sekarang, saatnya untuk tetap terus melawan dunia walau seorang diri.
Hari hari berlalu kulalui tanpa kehadirannya, terasa sepi
dunia ini dikala siang maupun malam. Tak pernah sekalipun aku merasakan hal
seperti ini, dari dulu aku selalu menjadi pemenang dalam setiap kisah cintaku.
Semua berakhir karena kuputusanku, dan sangatlah mudah mendapatkan pengganti di
kala itu.
Kini semua terasa begitu berbeda, dirinya telah bahagia
dengan orang yang lebih baik.
Hal ini semakin memantapkan niatku untuk pergi dari jakarta,
aku ingin merantau ke tanah lain. Tawaran kerja dari perusahaan teman ayahku
minggu kemarin yang aku masih bimbang untuk mengambilnya, sekarang tekadku
telah bulat untuk mengambilnya.
Tak ada lagi pengharapan di kota ini, aku tak ingin menyesal
di kemudian hari. Semuanya telah musnah. Aku harus membangunnya dari awal lagi,
hidup ini harus berubah dan harus ada satu hal yang aku korbankan untuk
mendapatkan masa depan yang indah di depanku nanti yaitu kisah cintaku.
Selamat tinggal Jakarta, kota lahirku, kota yang menjadi
tempat kenangan di dalam hati dan jiwaku dan kota tempat berdiam gadis yang
kucintai.
Veranda.
-@fauzihamdi