Selasa, 18 Juni 2013

When Love Changed Me

WHEN LOVE CHANGED ME

Hembusan angin melewati wajahku dengan tenang, daun daun berguguran di tengah ranting yang mulai rapuh. Terpampang garis lurus dari kejauhan sebuah rumah indah namun tak begitu mewah membuatku teringat kembali sekitar 8 tahun yang lalu. Saat aku sedang duduk di taman ini selepas berolahraga pagi untuk beristirahat sejenak, kemudian dari arah tersebut kulihat sebuah mobil box seperti pengangkut barang, sepertinya ada sebuah keluarga yang baru pindah rumah.
''Nampaknya bukan keluarga besar, kukira mereka adalah keluarga yang ramah'', kataku.
Kulihat mereka hanya bertiga, sepasang suami istri dan seorang putra nya yang masih kecil. Hanya seorang supir pengangkut barang tersebut yang membantu mereka, sedangkan barang yang mereka bawa terlihat cukup banyak. Tanpa pikir panjang akupun bergegas menuju tempat tersebut.

''Om barangnya banyak ya, bolehkah saya membantu?'' Kataku.
''Oh tentu saja boleh nak, tetapi jangan memaksakan diri, semampumu saja anak muda'', sahutnya.
Akupun mengiyakan. Memang barang yang mereka bawa cukup banyak dan dalam ukuran yang besar, akupun sedikit kelelahan.

Setelah hampir satu jam berlalu akhirnya pekerjaan kami pun selesai. Seorang pria tersebut pun menawarkan aku untuk beristirahat sehenak di rumah barunya terlebih dahulu, sebagai tanda rasa terima kasihnya karena telah ku bantu.

Di saat itu juga seorang gadis berambut panjang tingginya hampir sama denganku, wajahnya sangat tenang, matanya begitu memikat, siapapun yang melihatnya pasti akan merasa damai seperti di surga, seperti bidadari turun ke bumi, dia keluar dari rumah tersebut.

''Oh iya anak muda siapa namamu dan dimanakah kamu tinggal?''
''Aku Fauzi Om, kebetulan aku tinggal tidak jauh dari sini tepatnya di perumahan sebelah.''
''Om hampir lupa memperkenalkan diri, Om sendiri bernama Richard ini istri om Christin si kecil ini Joni dan gadis yg baru muncul ini anak sulung om bernama Veranda.''

Kemudian kamipun berjabat tangan, momen yang terlupakan bagiku adalah saat berjabat tangan dengan gadis tersebut, bayangkan saja saat ia tersenyum kepadaku, aku seperti sedang berada di gerbang pintu masuk surga dan seorang bidadari menuntunku untuk masuk ke dalamnya dan menikmati keindahan seluruh isinya.
Namun tanpa sadar tampaknya aku terlalu lama menggenggam tanganya, akupun melepaskannya dan kami menjadi salah tingkah. Pada detik itu lah kisah ini, kisah cinta ku dimulai. Kisah yang tak seorangpun dapat menghentikannya.




Sejak kejadian tadi pagi aku tak bisa berhenti untuk mengingatnya, wajahnya selalu terniang niang di benakku, kupikir inilah cinta pada pandangan pertama, ''memang minggu pagi yang indah.'' dalam hatiku berkata.

Lalu dalam lelappun aku tertidur hingga mentari pagi menunjukan sinarnya, saat aku terbangun badanku terasa berat dan pegal pegal, mungkin ini efek dari aktivitasku kemarin.
''Coba saja ia memelukku pasti tak akan seperti ini jadinya hehe'', gumamku.
Waktu telah menunjukan pukul 6.00 kurasa aku telat ke sekolah hari ini. Oh iya aku masih duduk di bangku SMA kelas 3, dan ini adalah tahun ajaran baru, mengingat ini adalah hari pertama akupun segera bergegas menuju ke sekolah agar tidak telat.

Hampir saja aku telat, saat aku datang pintu gerbang sekolahku hampir saja tertutup. Dan setibanya di kelas teman temanku ternyata terlihat berkumpul memisahkan diri dari satu dengan yang lainnya, sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu. Benar saja saat aku bergabung dengan mereka, mereka sedang membicarakan seorang siswi yang baru masuk ke sekolah kami, katanya sih cantik kaya bidadari gitu deh, ''tp masa iya'', gumamku. Kebetulan siswi tersebut memasuki jurusan yang sama denganku yaitu Ilmu Pengetahuan Alam, jadi kelas kami tidak terlalu berjauhan. Aku pun semakin penasaran dengannya.

Saat kami sedang asik berbincang bincang Bu Sirna guru paling menakutkan tiba tiba masuk ke dalam kelas.
''Ayo anak anak ambil kertas selembar dan sebuah alat tulis, hari ini kita akan tes daya ingat kalian'' suaranya dengan lantang membuat geger seisi ruangan.
Kami pun kaget bukan main, walaupun pelajaran biologi namun tes seperti ini akan berpengaruh pada nilai akhir kami.
Tes pun berjalan sedikit menegangkan dan aku melewatinya hanya dengan sedikit hambatan. Karena soal yang diberikan adalah dari pelajaran tahun kemarin.


Bel istirahat pun berbunyi, aku bersama kedua temanku Rafa dan Evan segera melakukan aktivitas kami seperti biasa yaitu nongkrong di kantin dan menggoda setiap wanita yang berlalu lalang di sekitar kami. Maklum kami termasuk cowok yg populer di sekolah kami, dengan wajah yang di atas rata rata dan bentuk badan yang atletis ditambah lagi kami bertiga mempunyai sebuah band yang cukup terkenal di kalangan komunitas indie saat itu. Hanya dalam segi pelajaran cuma aku yang menonjol, mereka sangat malas ketika belajar hanya mengandalkan keberuntungan dan bantuan teman saja ketika menghadapi ujian.

Di dalam benakku masih terpikir siswi baru itu, aku ingin melihatnya untuk menghilangkan rasa penasaranku, ya walaupun banyak perempuan yang hadir di dunia ku namun aku masih belum membuka hatiku untuk siapapun, tidak seperti kedua temanku, yang memacari setiap perempuan yang dekat dengannya. Akhirnya Ipul dan Nanda memberitahu kepadaku siswi baru tersebut akan datang dari arah jam 9.
Dari kejauhan memang kulihat ada sekumpulan perempuan yang hendak berjalan melewati kami. Semakin mereka mendekat aku semakin bisa mengenali mereka satu persatu, namun ada seseorang yang tampak tak terlalu asing tapi aku tak mengenalnya, tapi aku merasa pernah bertemu dengannya
Saat mereka lewat dihadapan kami aku pun kaget bukan main, ternyata dunia ini memang tak seluas samudra, aku sungguh terkejut, aliran darahku mengalir deras, badanku menjadi kaku dan panas dingin tak seperti biasanya,
Aku pun memberanikan diri untuk memanggilnya
Verandaaaa.....
Seketika kedua temankupun kaget dan heran. Ketiika itu juga siswi tersebut menoleh ke arah ku dan menghampiriku.
''Hmm sepertinya belum lama kita berjumpa, wajahmu terlihat tak asing bagiku, kau kan pria yang membantu keluargaku kemarin, coba aku ingat terlebih dahulu namamu, hmm Fauzi benar kan?'' Jelas Veranda.
Aku pun hanya tersenyum dan terlihat sedikit kikuk.
''Gak nyangka ya kita satu sekolah, dunia sempit kayanya, yaudah aku duluan ya.'' lanjutnya.
Aku pun hanya tersenyum kaku.
Kemudian kedua temanku bertanya tanya tentang kedekatanku dengannya, aku hanya tertawa tawa melihat tingkah laku cemburu mereka karena aku selangkah lebih maju dari mereka kali ini.





Hari hari pun berlalu, terdengar kabar jika Veranda memiliki  watak yang kurang baik, ku dengar ia adalah gadis yang tidak mau kenal dekat dengan siswa laun, terlebih lagi jika tidak seiman dengannya.
Aku pun nyaris tak percaya dengan hal itu, nyatanya selama ini hubunganku baik baik saja dengannya, ya walaupun dalam waktu dekat ini aku memang tidak sedang dekat dengannya, belakangan ini aku sibuk dengan persiapan menuju ujian akhir sekolah dan tes masuk universitas negeri.


Benar saja yang mereka bilang, saat itu aku sedang berjalan di lorong sekolah dan dihadapanku Veranda tergesa gesa dengan bawaannya yang banyak. Melihat hal itu, akupun langsung menawarkan diri untuk membantunya, kukira ia menyukainya, tak kusangka ia menolak tawaranku secara mentah mentah.
Anginpun berlalu dari arah ia pergi menerpa wajahku, rambutku berkibar, hatiku menjadi tak karuan adanya.

Semenjak kejadian itu aku berusaha mencari tahu apa yang terjadi padanya, Veranda yang kini tak seperti yang kukenal dahulu, ia telah berubah dan banyak teman temannya yang menjauhinya karena hal tersebut. Aku pun turut prihatin, namun aku percaya ada seseuatu yang tidak benar dibalik semua ini. Veranda pasti punya alasan tersendiri mengapa ia berubah menjadi seperti ini karena aku percaya dia adalah bidadari yang akan selalu bersinar menerangi gelap nya malam di dalam hatiku.


Sore itu sepulang dari tempat latihan olahraga, saat aku berada di jalan dekat dengan rumah Veranda kulihat ayahnya keluar dari rumah dengan raut wajah yang berantakan dan membawa dua koper besar ke dalam mobilnya sambil berteriak memaki maki ke arah rumahnya namun aku tak terlalu jelas mendengar perkataannya yang kudengar hanyalah kata ''cukup sampai disini''. Kemudian Om Richard melaju dengan cepat dengan mobilnya meninggalkan rumah tersebut.

Setelah ku selidiki ternyata mereka sudah berpisah dan tidak ada yang tahu alasan mengenai perpisahan tersebut.
Tak kusangka, keluarga yang begitu damai dan harmonis bisa berakhir dengan kisah seperti ini. Aku turut prihatin apa yang telah dilalui Veranda, memang tak pantas menyalahkan dirinya berubah akhir akhir ini. Dia hanyalah seorang gadis lugu yang belum siap melawan dunia yang kejam ini




Ujian akhir sekolah tinggal menghitung hari, semua siswa sangat sibuk dengan urusannya masing, namun Veranda masih meratapi kesedihannya, tak ada seorangpun di sekolah ini yang tahu tentang masalahnya selain aku, terlebih Veranda terlihat lebih selalu menyendiri akhir akhir ini, aku takut Veranda tidak menyelesaikan ujian akhir dengan baik.


Hari ini pemberitahuan nilai Try Out terakhir menjelang ujian akhir, setelah pelajaran berakhir, aku dan teman teman bergegas melihat hasilnya di papan pengumuman. Aku sangat senang karena nilai ku meningkat dan cukup memuaskan, ini semua karena kerja keras dan bantuan dari teman temanku selama ini. Namun saat aku mencari nama Veranda aku terkejut karena nilainya makin menurun dan tidak memenuhi kriteria untuk lulus dalam ujian akhir. Kulihat di sekeliling tak nampang batang hidungnya, kupikir ia telah mengetahui hasil dari tesnya, sehingga ia enggan untuk melihatnya.

Setelah melihat pengumuman tersebut, teman teman ku sebagian pulang dan ada juga yang mampir ke kantin terlebih dahulu namun hanya sebagian kecil, disinipun aku tak melihat Veranda. Aku terus memikirkannya, ''kemana dia pergi apa yang dilakukannya saat ini,'' pikirku.

Saat hendak ingin pulang aku teringat salah satu buku ku tertinggal di ruang kelas. Tadinya aku agak malas untuk mengambilnya karena kelasku terletak di lantai 3 dan berada di ujung lorong, tapi buku itu sangat penting karena berisi materi materi ujian akhir.

Keadaan sekolah saat itu sangat sepi karena seluruh siswa sudah pulang, aku hanya seorang diri menuju ruang kelasku dan dengan segera mengambil buku tersebut. Saat ingin meninggalkan kelas aku mendengar suara tangisan kecil dari pojok koridor lantai ini. Aku agak parno dengan hal tersebut, karena terdengar kabar sekolah kami adalah salah satu sekolah angker yang ada di jakarta. Namun aku penasaran dengan hal tersebut, aku berjalan menuju sumber suara tangisan tersebut. Setelah dekat, aku melihat seorang gadis sedang berdiri di ujung bangunan dengan tatapan kosong melihat jauh ke arah depan, sepertinya aku kenal gadis ini namun agak sedikit ragu, aku agak parno karena ia masih menggunakan seragam sekolah dan rambutnya panjang terurai, sebagian pikiranku terus terbayang bayang oleh mahluk halus namun sebagian besar ingin menemui gadis itu. Setelah dekat aku pun tak ragu, aku memegang pundaknya, ya aku tahu itu Veranda. Dia masih tidak melihat ke arahku, lalu aku mencoba berkata tenang untuk menenangkan hatinya. Tiba tiba tangisannya berhenti, dia berbalik ke arahku tanpa kuduga dengan sigap ia memelukku dengan erat, aku canggung sekali tetapi ia tetap memelukku dan menangis kembali kali ini lebih keras. Akhirnya aku pun memeluknya, Veranda mengatakan hidupnya kini sudah hancur.

''Aku tahu masalahmu Ve, tapi kamu adalah gadis yang kuat, gadis kuat tak seharusnya seperti ini.''
''Aku lemah bahkan dalam hal apapun, aku sudah tak mempunyai siapa siapa lagi, aku tak tahu harus seperti apa di depan sana.''
''Kamu masih punya aku dan teman teman, kamu tidak akan pernah sendiri di dunia ini, aku akan terus menemanimu.''
''Tapi aku telah berbuat jahat pada mereka, aku telah mengacuhkan mereka. Terlebih kepadamu.''
'''Mereka adalah orang orang baik, aku percaya jika mereka tahu apa yang kamu hadapi saat ini, mereka pasti akan memakluminya dan akan terus mendukungmu.''
Kami pun melepas pelukan kami, aku mengusap air matanya, ku tepi kan poni rambutnya lalu kucium keningnya dan kemudian ia tersenyum kembali.

''Gitu dong, kamu kan cewek yang kuat.''
''Makasih ya Ji udah selalu ada buat aku.''
Lalu ia pun mencium pipiku. Perasaanku kini berubah, aku tak tahu harus senang atau sedih.
Lalu aku mengajaknya ke suatu tempat, tempat yang sering aku kunjungi saat sedang merenung seorang diri. Kebetulan saat itu waktunya matahari terbenam dan kami pun melihat sunset yang indah bersama. Aku terlarut dengan suasana ini, tak sadar bibirku mengucapkan kata kata sakral yang sulit untuk dikeluarkan.

''Ve aku mencintaimu.''
''Aku juga mencintaimu, kamu harus berjanji akan selalu ada untukku ya.''
''Iya aku janji. I'm your Guardian Angel.''
Kami pun melakukan janji kelingking, lalu berpelukan, karena terlalu terlarut oleh suasana dengan nalurinya wajah kami berdekatan lalau bibir kami semakin mendekat, sesaat kusadar ini tidak benar, aku tak mau merusak dirinya.
''Maaf Ve aku tak bisa melakukannya, aku tak mau menodaimu, seorang bidadari harus terus dalam keadaan suci''.
Ia hanya tersenyum.


Malam telah larut, setelah selesai makan malam di tempat makan terdekat, kami pun pulang dengan menggunakan sepeda motorku. Di sepanjang perjalanan Veranda sangat erat memelukku seperti ia akan kehilanganku untuk selamanya, aku pun merasa nyaman akhirnya Veranda telah kembali menjadi dirinya yang dulu.


Mulai hari inilah aku menjalin hubungan dengannya, hanya mencintainya, tak ada wanita lain di hatiku selain dirinya.

Namun tidak semua hal berjalan mulus, terdengar kabar siswi adik kelasku menaruh hati padaku, aku pun tak menghiraukannya. Memang cantik, tingginya melebihi Veranda, salah satu gadis populer di sekolah kami, Gaby namanya. Aku juga dulu sempat menaruh hati padanya, berusaha mendekatinya, namun aku tak meneruskan usahaku karena terlalu banyak persaingan kala itu dan sepertinya ia tak membalas lebih.


Pagi itu sengaja aku datang lebih awal, karena ada tugas dari guru yang belum sempat aku kerjakan kemarin. Terpaksa aku harus mengerjakannya secepat mungkin di sekolah, saat sedang asik mengerjakan soal, seseorang menyentuh tanganku kupikir itu Veranda tapi aku kaget ternyata itu Gaby, sontak langsung aku singkirkan tanganku dan melarang perbuatannya, tetapi dia terus membuatku terpojok menanyakan hal hal yang tidak akan pernah bisa ku jawab.
''Kak, kenal aku kan? Dulu kakak pernah mendekatiku ya? Kakak masih punya perasaan sama aku? Kakak masih sendiri kan saat ini? Gimana kalau nanti sore kita jalan?''
Di ruang kelas hanya ada kami berdua, lalu tanganku meletakkan pulpen yang sedari tadi aku pegang, aku memandang wajahnya. Terlihat dia sangat serius dengan hal ini.
''Hmm aku.. Aku.. Ingin... Keluar sebentar ke kamar kecil.''
 Aku langsung berlari meninggalkan kelas dan menuju wc sekolah. Terus memikirkan hal ini dan menunggu hingga bel masuk berbunyi.

Saat jam istirahat aku bergegas menuju kelas Veranda, terlihat raut wajahnya yang cemberut dan jutek. Akhir akhir ini kami memang sering belajar bersama selain untuk meningkatkan nilai akhir, juga untuk melepas rasa rindu. Berulang kali aku bertanya kepadanya, namun ia hanya diam. Ia terus makan tanpa memperdulikanku, saat kutanya kenapa ia menjadi seperti ini lalu ia mengambil sebuah kertas, dan menulis sesuatu di kertas tersebut. Saat ku baca tulisannya adalah ''Gaby''. Aku pun tertawa melihat hal yang telah dia lakukan, ternyata ia cemburu.



Akhirnya ujian akhir telah selesai, semua soal tidak terlihat sulit untuk dikerjakan, semua yang kupelajari tak satu pun yang sia sia, begitu pula dengan Veranda. Selepas bel pulang, aku menemuinya untuk mengajaknya ke suatu tempat. Lalu kami berangkat menuju tempat itu melaju dengan sepeda motorku.

Kami menuju ke suatu tempat yang mempunyai pemandangan yang bagus, terletak di pinggir kota. Disini kami hanya berdua, dikelilingi hamparan rerumputan hijau nan indah dipadu dengan udara segar yang berhembus menenangkan jiwa, memadu kasih bersama. Dengan petikan gitar dan nyayian yang kulantunkan hanya untuknya tentang nada nada cinta, diapun bernyanyi bersamaku. Sungguh indah saat itu, terasa tak ingin berpisah darinya. Hati kami telah padu terhanyut suasana penuh cinta.
Satu hari yang berarti dijalani dengan orang yang dicintai terasa seribu tahun telah hidup bahagia di dunia ini.



Hari itu aku sangat sibuk mengurus kelanjutan studiku ke jenjang perguruan tinggi, hampir seharian aku tak bertemu dengannya karena aku harus pulang pergi ke rumahku mengambil dokumen pendukung tersebut. Veranda memaklumi keadaan ku, dia hanya bisa bersabar dan terus mensupportku. Namun ibuku tak sependapat dengan keinginanku, ibuku tidak memperbolehkanku untuk melanjutkan jenjang pendidikanku ke perguruan tinggi tahun ini karena minimnya ekonomi keluarga kami pada saat itu.
Aku tak tahu harus berbuat apa, semua tes untuk masuk perguruan tinggi telah ku daftar namun ibu tak merestui keinginanku. Sedangkan Veranda mendapat dukungan penuh dari keluarganya.
Alhasil aku pun setengah hati untuk belajar masuk tes ke perguruan tinggi, dan hasilnya pun sudah dipastikan, aku tak akan melanjutkan studiku tahun ini walaupun aku telah mengikuti tiga jenis ujian masuk yang berbeda beda saat itu. Aku sangat depresi pada saat itu, jalan hidup yang telah aku rencanakan akhirnya kandas dan harus ku buang jauh jauh.


Suatu malam aku merenung sendiri di kamarku, akan seperti apa kedepan nanti, arahku sudah tak jelas. Tiba tiba ibuku datang dan berkata,
''Nak kamu tak perlu cemas, umurmu masih muda, masih banyak kesempatan yang bisa kamu raih. Ibu yang telah merawatmu sejak kecil, Ibu tahu yang terbaik untukmu.''
Aku tetap terdiam, namun ia masih melanjutkan perkataannya.
''Kamu harus tahu, kita ini keluarga yang kurang mampu, jangan samakan dengan teman temanmu, apa kamu pikir ibu tidak berkeinginan kamu untuk menjadi orang hebat? Ibu selalu menangis setiap malam meminta kepada Sang Pencipta agar kamu diberikan yang terbaik untuk kehidupanmu. Jangan lah berkeluh kesah, kisahmu masih panjang, kamu mempunyai potensi, Allah pasti akan memilihkan jalan yang terbaik untukmu. Sekarang ikuti saran ibu, untuk satu tahun ke depan sebaiknya kamu bekerja terlebih dahulu untuk mengumpulkan uang biaya kuliah, Ibu ingin kamu seperti kakak kakakmu bisa mandiri.''
Perlahan aku pun mengerti yang telah beliau katakan, beliau selalu ingin yang terbaik untukku. Akhirnya aku mengangkat wajahku dan memeluknya lalu mengucapkan rterima kasih padanya.


Semakin bertambah bulan hubungan kami semakin renggang karena sudah tidak satu akademi lagi, aku bekerja di suatu perusahaan di tengah kota dan ia kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta kota ini. Namun hatiku tetap bersamanya, tak sekalipun berpaling untuk yang lain. Aku hanya sibuk dengan pekerjaanku setiap hari, sedangkan ia masih menikmati masa mudanya.

Aku sudah tak tahu hubungan kami saat ini seperti apa, tampaknya sudah tak ada cintaku lg dihatinya. Aku selalu menyempatkan waktuku bersamanya, berkumpul dengan teman temannya hingga aku akrab dengan teman temannya, hanya rasa saling percayalah yang menguatkan hubungan ini.

Pernah suatu waktu Stella salah satu teman dekatnya menyarankan untuk mengakhiri hubunganku dengan Veranda karena terlalu banyak perbedaan diantara kami. Aku menyanggahnya, aku masih memiliki keyakinan kalau masih ada cinta dihatinya untukku. Stella memberitahuku kalau banyak pria di kampusnya yang mendekati Veranda, namun Veranda tak pernah membuka hatinya untuk orang lain. Sekarang dia sedang sibuk dengan tugas kuliahnya.


Suatu hari aku bertamu ke rumah Veranda, aku diundangnya untuk makan malam. Tetapi selama acara berlangsung ibunya nampak sinis kepadaku, sepertinya dia tak mengharapkan kehadiranku disini. Tante Christin menatapku seperti aku adalah seorang pembunuh dan tak menunjukan sikap ramahnya terhadapku.

Setelah acara berakhir aku pulang dengan suasana hati yang tenggelam.

Sejak kejadian tersebut kami jadi jarang bertemu, mungkin ibunya tak suka dengan kehadiranku di kehidupannya dan menyuruh Veranda menjauh dariku.

Suatu hari aku menyempatkan waktuku untuk bermain ke kampus Veranda, tetapi aku melihat kejanggalan yang terjadi, saat aku melihat Veranda dari kejauhan dan secepat kilat mendekatinya karena rasa rindu yang telah begitu dalam, tiba tiba seorang pria menghampiri Veranda dan mengajak Veranda pergi ke suatu tempat menggunakan motornya. Veranda pun ikut dengan pria tersebut lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Aku tak tahu lagi apa yang kurasakan kini, hatiku hilang tanpa cahaya, semua mata angin tak memberikan arahnya. Semuanya tenggelam, mati di sungai kegelapan.


Keesokan harinya Veranda menemuiku dan berkata kepadaku ingin mengakhiri hubungan kami karena dia merasa tidak ada yang perlu dipertahankan lagi di dalam hubungan ini, dia juga menambahkan sudah memiliki penggantiku yang jauh lebih baik dariku.
Berulang kali aku bertanya kepadanya tentang keputusan tersebut, namun ia tetap berkomitmen dan tak mau merubah keputusannya. Aku pun mengiyakan, lalu kami pun berpisah tanpa ada kata perpisahan diantara kami berdua.

Ketika ada ribuan alasan untuk berhenti mencintaimu, entah kenapa aku tetap menemukan sejuta alasan lain untuk tetap bisa mencintai mu. Dan sekarang, saatnya untuk tetap terus melawan dunia walau seorang diri.


Hari hari berlalu kulalui tanpa kehadirannya, terasa sepi dunia ini dikala siang maupun malam. Tak pernah sekalipun aku merasakan hal seperti ini, dari dulu aku selalu menjadi pemenang dalam setiap kisah cintaku. Semua berakhir karena kuputusanku, dan sangatlah mudah mendapatkan pengganti di kala itu.
Kini semua terasa begitu berbeda, dirinya telah bahagia dengan orang yang lebih baik.
Hal ini semakin memantapkan niatku untuk pergi dari jakarta, aku ingin merantau ke tanah lain. Tawaran kerja dari perusahaan teman ayahku minggu kemarin yang aku masih bimbang untuk mengambilnya, sekarang tekadku telah bulat untuk mengambilnya.

Tak ada lagi pengharapan di kota ini, aku tak ingin menyesal di kemudian hari. Semuanya telah musnah. Aku harus membangunnya dari awal lagi, hidup ini harus berubah dan harus ada satu hal yang aku korbankan untuk mendapatkan masa depan yang indah di depanku nanti yaitu kisah cintaku.

Selamat tinggal Jakarta, kota lahirku, kota yang menjadi tempat kenangan di dalam hati dan jiwaku dan kota tempat berdiam gadis yang kucintai.


Veranda.

-@fauzihamdi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar